Ketika seseorang yang biasa bersemangat menamatkan Al-Qur’an satu juz dalam satu hari,

kemudian menurun atau tiba-tiba kehilangan semangat membaca Al-Qur’an,

Ketika seseorang merasa segan untuk melakukan perbuatan baik atau beribadah

Ketika seseorang merasa menjalani hari-hari seperti robot yang tidak memiliki ruh

Ketika hati terasa beku sulit untuk dicairkan..

Ketika semangat ibadah kian berkurang jatahnya untuk dilaksanakan..

Dan sesungguhnya… ketika itu , Aku, mungkin juga kalian sedang FUTUR

Sesungguhnya bagi setiap amalan ada masa-masa rajin dan tiap-tiap masa rajin ada futur.


Namun, barangsiapa yang futurnya menjurus kepada sunnahku,maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk. Barangsiapa pula yang futurnya menjurus kepada selain sunnahku, maka ia telah tersesat.” [HR.Al-Bazzar]

FUTUR ,,Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ruhiyyah seseorang yang sedang menurun.

Atau dengan istilah yang lebih sederhana, futur ialah “penurunan semangat beribadah.”

Efek terburuknya berupa, ‘ingitha’ (terputusnya aktivitas) setelah istimrar (kontinyu) dilaksanakan.

Sedangkan efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan bersantai-santai, dimana sikap tersebut datang setelah sikap giat bergerak.

Ada futur yang masih tergolong rendah dan ada futur yang sifatnya kronis.

Futur yang terbilang rendah, biasanya tergambar dalam penurunan kualitas dan kuantitas ibadahnya saja.

Artinya ia masih berada di rel yang benar, ia masih mengikuti gerbong Al-Qur’an dan as-Sunah.

Meskipun, kadang ia tertatih-tatih di rel itu, dan bahkan teringgal di belakang.

Futur yang seperti ini, pada permulaannya memang tidak terlalu berbahaya,

karena hal itu merupakan tabiat manusia, bahkan itulah “mungkin” yang dimaksud dengan al-imanu yazidu wa yanqusu, Iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang.

Fluktuatif keimanan merupakan hal yang wajar bagi setiap orang, karena tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya benar, seperti halnya tidak ada yang selamanya salah.

Akan tetapi, ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan dalam rentang waktu yang cukup lama,

maka tentu saja lambat laun ia akan merosot dan terus merosot.

Kualitas keimanannya semakin lama akan semakin rendah dan lemah. Dan bahkan mungkin saja,

ia akhirnya terperosok pada futur “skala tinggi.” Bukan hanya penurunan kuantitas dan kualitas ibadahnya saja yang nampak pada dirinya, akan tetapi, lebih besar dari itu, ia tidak lagi berada pada rel ketaatan.

Ke-futur-annya digambarkan dengan beralihnya taat menjadi maksiat, pahala dengan dosa. Na’udzubillah min dzalik.

Penyebab Kefuturan:

  1. Hilangnya keikhlasan
  2. Berlebihan (ghulu) dalam ibadah (. Ia terlalu bangga dengan amalnya atau ia tidak wasapada hingga seluruh waktu dan  tenaganya ia habiskan untuk beribadah tanpa memperhatikan adab-adabnya, tanpa memberi kesempatan otak dan tubuhnya untuk rehat sementara.)
  3. Lemah dalam iman dan menuntut ilmu syar’i
  4. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat
  5. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi
  6. Melakukan dosa dan maksiat
  7. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah)

Syaikh Islam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,”saat-saat futur bagi seorang yang beramal

adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa fuurnya lebih membawa

ke arah muraqabah (pengawasa oleh Allah) dan pembenahan langkah,

selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu, dan tidak melaksanakan sesuatu

yang diharamkan oleh Allah SWT, diharapkan ketika pulih ia akan berada

dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya,

aktivitas ibadah yang disukai Allah adalah yang dilakukan

secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus.” (Madarij As-Salikin, 3/126).

Penawar Kefuturan:

  1. Memperbaharui keimanan. Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjamaah di masjid, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat tahajjud dan witir. Mengaktifkan kembali puasa sunnah.Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain-lain dari amal-amal ketaatan.
  2. Merasa selalu diawasi Allah ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya
  3. Ikhlas ,sabar dan bertakwa
  4. Mensucikan hati (syirik, bid’ah dan kemaksiatan)
  5. Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah dan dauroh-dauoroh syar’iyyah.
  6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri
  7. Mencari teman yang baik (shalih). Agar dikala kita tertimpa futur, ada tmn2 yg mengingatkan
  8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)

Maka, di sinilah pentingnya kita harus senantiasa mengontrol kondisi ruhiyyah kita masing2,

menimbangnya dengan timbangan-timbangan amal keseharian, sehingga kita bisa segera

menyadari apa yang sedang terjadi pada ruhiyyah….

Nb : catatan ini dibuat untuk menegur diri sendiri, juga untuk semua tmn2

yang semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari fana-ny dunia..

Natsumi Rei Alkhansa_3m1 13:00 WIB